Berwirausaha
atau dalam bahasa bisnis sering disebut sebagai enterpreneurship adalah salah
satu hal yang banyak orang membicarakan dan menginginkannya. Mengapa tidak,
seorang enterpreneurship bisa menghasilkan laba hanya dalam hitungan menit. Oleh
karenanya menjadi tumpuan utama perkembangan ekonomi indonesia dewasa ini. Tapi
hal yang digemburkan sedemikian rupa ternyata banyak menyebabkan persepsi salah
mengenai sesuatu yang dapat dijadikan sebagai objek bisnis, dalam hal ini
adalah tentang barang atau jasa yang akan dijual. Realitas menunjukan banyaknya pengusaha atau enterpreneurship melihat keaadaan sebagai peluang dan mereka langsung masuk untuk menjajakan bisnisnya. Hasilnya adalah “gulung tikar”, bangkrut dan gagal. Sebenarnya apa yang salah? Tidak semua hal bisa dibisniskan, bila tidak ada segmentasi yang tepat dalam aplikasinya. Lantas apa yang akan dibeli oleh pelanggan? Sekaligus bagaimana menentukan segmentasi pasar yang tapat? Sebagai objek penting dalam dunia bisnis konsumen adalah hal utama yang harus diperhatikan, tidak hanya sekedar berjualan atau menjajakan bisnis atau barangnya tanpa ada hal lebih dalam perhatian terhadap konsumen. Semuanya menyangkut pangsa pasar dan mempertahankan bisnis kita bahkan menjungkalkan bisnis atau perusahaan besar sekalipun, juga bisa.
Dewasa
ini semua perusahaan terus-terusan menghadapi tantangan untuk menentukan dan
menyediakan produk yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan atau konsumen,
selain daripada menghadapi tantang internal dan externalnya sendiri. fakta
menunjukan sebagian besar perusahaan yang berupa mengembangkan produknya secara
prosentase 60 persen gagal, hanya 40 persen produk yang bisa dan benar-benar
bisa menguntungkan. Hampir semuanya dari kedua data tersebut dipengaruhi oleh
segmentasi pasar. Sebenarnya apa segmentasi pasar itu?
Proses
yang disebut oleh para pelakon usaha sebagai segmentasi pasar adalah saya lebih
suka menjelaskan sebagai sebuah proses pengelompokan atau penyeleksian barang
atau apa saja berdasarkan kategori tertentu. Disini adalah bagaimana seorang
manajer bisa menentukan pasar berdasarkann keadaan tertentu dengan dibumbuhi
teori yang sesuai denagan keadaan tersebut.
Hasilnya adalah apabila mereka para menajer gagal mengelompokkan barang
atau jasanya tidak sesuai dengan keaddan yang terjadi, bukan tidak mungkin
segemntasinya akan menyebabkan mereka benar-benar gagal.Cara
untuk memikirkan segmentasi pasar yang mungkin berbeda dengan kebanyakan para
pengusaha lakukan. Mereka kerap kali terfokus kepada segementasi pasar
berdasarkan jenis produk, tipe harga, demografi bahkan psikografi individu yang
menjadi target perusahaan. Inilah yang menyebabkan mereka terperangkap kepada
segala jenis kegagalan. Penyebabnya adalah bahwa semua batasan ini di tentukan
sendiri oleh ciri produk dan pelanggannya. Sebagaimana dalam buku solusi sang
innovator karya Clyton M Christensen dan Michael E Raynor menyebutkan bahwa
teori-teori pemsaran yang berdasarkan atas ketegorisasi ini adalah tentang
mengungkap korelasi antara anatara ciri dan hasil. Namun hal itu hanya bisa
dilakukan ketika keadaan menuntut dan menawarkan masalah kausalitas. analago berikut saya dapat ketika mengikuti perkuliah di kampus terpadu STMIK Amikom Yogyakarta dalam ranah perkuliah lingkungan bisnis. analogi saya mengenai segmentasi pasar yang beda dengan kebanyakan usaha lakukan adalah dengan cara melihat kompleksitas yang berkategori utama dalam kehidupan pelanggan. Pelanggan akan cenderung memiliki masalah di setiap waktu, dimana masalah akan membentuk sebuah komplesitas berkategori seperti yang sebelumnya saya bicarakan. Dalam penerapannya pelanggan akan menacari produk atau layanan yang bisa membuat masalah mereka teratasi dengan cepat dan berkualitas. Bukan sekedar selesai saja. Yang akan saya tekankan adalah proses pemikiran pelanggan yang sifatnya terstruktur dan cenderung tanggap masalah untuk menyelesaikannya. Dengan kata lain pelanggan yang berusaha menyelsaikan masalah tersebut bsa saja menggunakan orang lain atau barang. Sehingga konsep dari segmentasi pasar hal ini yang menciptakan proseas segmentasi pasar berbasis keadaan atau dimensi fungsional.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar